cerita seks CLBK berakhir ngentot dengan selingkuhan

cerita seks CLBK berakhir ngentot dengan selingkuhan

cerita seks CLBK berakhir ngentot dengan selingkuhan

Cerita Sex Bokep : Kisah Nyata | Cerita Dewasa | Cerita Sex | Cerita Terbaru | Cerita Hot :

Tempat berbagi Cerita & Foto Sex, Dewasa, ABG, HOT, Tips Bercinta : cerita seks CLBK berakhir ngentot dengan selingkuhan. 17 tahun yang lalu, aku jatuh hati parah dengan teman cewekku di sekolah saat masih SMP. Namanya Ceri singkatan dari Ceria. Dimataku (dulu) dia adalah cewe paling cantik. Namun nyali anak SMP: berani kebut2an motor, anak nongkrong, ban hitam karate, tapi kalau sudah hadapan sama cewe lgsg ciut. Hasil stalking (dulu gak ada tuh yang namanya socmed, jadi stalking bener2 stalking) aku tau dia selama SMP gak punya pacar. Paras cantiknya gak cocok dengan kelakuannya pada jaman itu. Ngupil, suka kentut sembarangan, teriak teriak, duduk ngangkang kayak laki (cewe jaman SMP dulu make hotpants dibalik rok birunya) membuat gak banyak cowo yang demen sama dia. Mungkin cuma aku satu-satunya cowo yang suka sama dia, aku pernah beberapa kali usaha pdkt tapi ujung2nya dia sepertinya hanya anggap aku teman. Ya kebayanglah pedekatenya cuma nanya PR aja. bwueeeh payah… Anyway, setelah SMP, kami naik kelas dan pindah ke SMA yang sama. Sayangnya di tahun kedua, ayahnya yang bekerja sebagai engineer migas dipindahkan ke Indonesia Timur dan Ceri yang ogah ngikut ayahnya ke daerah, dititipkan di Neneknya di Semarang. Sayang sekali, namun sudahlah memang belum jodoh.

gadis kampus bugil

Fast forward ke jaman sekarang. Di penghujung umur 20an (tepatnya 29 tahun) aku sedang dalam masa jenuh. Jenuh dengan segalanya. Pekerjaanku stabil, incomeku bagus. Tapi semuanya monoton. Carrer pathku di perusahaan sudah mentok. Satu level lagi diatasku sudah Dewan Direksi, naik keposisi tersebut akan memakan waktu tahunan. Disamping aku harus bersaing dulu dengan kandidat-kandidat lulusan luar negeri. Prestasiku ini bagus dari sudut pandang operasional kantor, namun kalau dilihat dari sisi sertifikasi profesional, bekalku sedikit. Itu pula yang membuatku enggan pindah ke pekerjaan lain. Istilahnya sudah di comfort zone. Pernikahanku? Well aku menikah di umur 24. Terlalu dini memang. Jujur saja ini atas desakan pacarku yang insecure karena aku banyak didekati wanita2 yang kalo dari sudut pandangku, mereka semua menganggapku sebagai teman, kakak atau apalah. Apapun selain pribadi dengan fungsi seksual. Anakku sudah satu dan aku mensyukurinya. Namun ada yang kurang. Kehidupan seksku sama sekali payah. Bayangkan saja, seksku ini hanya sebulan sekali hingga istriku sudah tidak mau melayaniku. Mau tidak mau aku sering menggunakan jasa wanita pemuas nafsu, tapi feelnya beda. Chemistry saat ciuman tidak ada. Having sex and making love itu berbeda 180 derajat. Aku bisa aja croot, membuat mereka, para wanita itu orgasme. Mereka bilang aku hebat di ranjang, bisa membuat mereka orgasme berkali-kali. Kalimat itu masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Siapa yang tau kalau mereka memalsukan orgasmenya. Siapa juga yang tau kalo mereka juga bilang gitu ke customer lainnya. Aku dan istriku ini sudah pisah ranjang, aku bertahan demi anakku saja, beberapa weekend sekali dia pulang ke rumah orang tuanya dan membawa si kecil bersamanya. Aku pun selama dia dirumah orang tuanya pindah sementara ke apartemenku yang sementara kusewa karena dekat dengan kantor, ketimbang tinggal jauh di pinggir Jakarta. Di apartemen ini lah kadang aku memboyong wanita pemuas untuk melayaniku.

Singkat kata, suatu saat aku meng-add kawan lama SMP. Dia lama tidak ada kabarnya saat kami lulus SMP. Saat membuka pagenya aku jadi tau setelah SMP dia masuk SMK dan segera mendapatkan job sebagai tenaga teknis di Jepang. Luar biasa bukan? Jepang. Anyway, bukan temanku yang ini yang mau kuceritakan, tapi rentetan kejadian setelahnya. Setelah temanku ini aku add, kami balas2 komen di wall, standar lah, apa kabar, sibuk apa, ada projek apa blablabla… namun beberapa saat setelahnya Ceri muncul nimbrung di wall kami. “Loh, ada Dhani ya Sal di FB lo” Dhani itu aku, Sal yang dimaksud Salman, temenku yang lama di Jepang. Gak lama kemudian ada notif di FB ku. *One Friend Request*. Ceria mengaddku. Tapi aku udah lupa-lupa inget. Apalagi sekarang Ceria sudah pakai jilbab, hijabers. “Hi Dhan, masih inget aku gak?” “Ceri? ya ampun gw sampe gak ngenalin lo, sejak kapan pake jilbab, udah tobat sekarang? hahahahaa” “Sialan lo Dhan, udah lama ini dari jaman kuliah, bisa dibilang tobat sih gyahahahah” “Tobat apaan Cer, lo kan alim gitu” see, gombalan gw payah kan? “Hahahaaa, kampret lo, wah lo udah sukses ya sekarang, eh itu gw liat logo name tag lo di profpic di PT XYZ” “Iya, kenapa?” “Wah adek gw, mmm ipar gw kerja disitu juga tuh tp bagian procurement” Huh, karena aku tau dia anak tunggal masa belom apa-apa udah ngasi kode kalo dia udah nikah. Ya terus kalopun belom nikah, mau apa? kan gw juga udah kawin ya. “Oooooo… iya kayaknya tau deh” basa basi aja. Setelah itu Ceri gak balas lagi. Aku liat page FB Ceri, ternyata dia memang sudah berjilbab dari jaman kuliah. Namun sepertinya ada deklinasi (kata apa ini?) karena pas jaman kuliah jilbab dia syar’i yang lebar-lebar, namun foto-foto terbaru dia dengan teman-teman kantornya menunjukkan dia pakai jilbab gaul ala-ala hijabers. Bahkan beberapa berpose seperti jilboobs. Jilbabnya tidak dapat menyembunyikan dada besarnya yang dibalut ketat dalam kaos, sweater, cardigans, jaket ataupun pakaian tertututp lainnya. Selain itu Ceri semakin cantik saja. Kulit wajahnya (ya karena area kulit ini aja yang keliatan) semakin putih, di foto-foto di FB, matanya selalu bersinar, dan senyumnya. Siapa sih yang bisa beralih dari senyum macam Ceri. Nama adalah doa. Dianugrahi nama Ceria memang membuat Ceri benar-benar ceria.

Lumayan kepikiran sama Ceri yang jadi ketemu lagi, meskipun masih virtual via email. Saat buka FB ku, Salman message-in aku. “Bro, kumpul-kumpul yok, Jumat aja balik kerja.” “Boleh bro siapa aja?” “Ada Anna, Ani, Anu , Anne, Anno, mayan rame kok anak2 tongkrongan kita dulu” Nama temen2 aku gak pentinglah hahaha, Salman lanjutin message “Ada Ceri juga lho, lo masih demen gak ama dia? weheheheheh” “HAhahaah mongki loh, masih inget aja, udah kawin anaknya bro” “Lah, apa hubungannya kawin/belom kawin. orang cuma ngumpul doang, mang mau lo apain? udah telat bro, terlambat 17 tahun huahahahahaha” “Hah kampret lo, iya deh gw ikut”.

Jumatnya kita ketemuan, lumayan seru ada beberapa temanku yang sudah kawin, beberapa cewe dan beberapa cowo. Ada yang udah tambun gak karuan, ada yang jadi pebisnis internasional, ada yang buka bengkel. Dan tentu aja ada si cantik Ceri. Hati ini meleleh saat dia menyambutku waktu kami tos tosan sama anak-anak yang udah sampai duluan, Entah kenapa Ceri cipika cipiki sama aku, udah ketebak disaut sorakan dari anak2. Sayangnya aku duduk berseberangan dengan Ceri yang saat itu memakai kemeja bunga-bunga dipadu celana hitam dan high heels hitam, rambutnya tertutup jilbab ala hijabers berwarna kuning, hampir senada dengan kemeja bunganya. Jadinya kami gak terlalu bisa ngobrol, tapi aku perhatiin Ceri ini curi-curi pandang terus ke aku, kayak pengen ngajak ngobrol tapi gak jadi2 karena teman-temanku yang cablak suka motong omongan. Aku beranjak mau refill minuman, dan kulihat di pantulan kaca restoran, Ceri menyusulku juga. Saat mengisi air minum dia menyapa “Hi Dhan..” “Hi Cer, ya ampun dah lama gak ketemu, aku dari tadi pengen ngobrol sama kamu tapi anak2 buset dah bawel banget.” “Hahahaha, iya, rame banget mereka, kamu kayaknya udah sukses ya, gimana kabarnya, anak kamu udah berapa?” ” Baru satu kok udah mau 4 tahun nih, tapi lagi dibawa mamanya” aku keceplosan. “Hah, dibawa mamanya gimana?” “Eh nggak nggak, kamu sendiri gimana? Anak udah banyak? hahahah” ” Dikira kelinci?? Anakku udah dua satu umur 7, yang kecil umur 5, dua-duanya ngikut nyokap gw” “Loh kenapa?” “Ya gak mungkinlah, akunya sibuk gini, dulu awal2 sampe yang kecil udah 4 tahun sih masih enak, begitu naik Direktur aku udah gak ada waktu, mana papanya anak-anak ke site mulu.” WHAT THE HELL!!!: untuk dua hal, diumur semuda itu dia udah Direktur? kedua: suaminya sering disite huahahahaha. Huahahaha apaan tong. “He? Lo udah Direktur, gilaaaa keren banget!!!” Ceri menimpali “Eh bukan-bukan, maksudnya bukan Direktur kayak di perusahaan gitu. Ini cuma level jabatan aja. Naiknya juga kebetulan banget karena waktu itu kantor gw di bajak sama pesaing, tapi gw dan beberapa team member bertahan. Jadinya kita malah di promosiin. Beberapa ada yang dipindah ke cabang di Luar Negeri, tapi gw milih di sini aja lah. Akhirnya manajemen naikkin level gw jadi Direktur. Mayan gaji naik. Di artiinnya harfiah aja, Director = Direction = Pengarah hahahahaa dikira pengarah gaya” Tawa Ceri lucu sekali, menggelegar. Sesuai namanya, Ceria, ini anak riang sekali, tak satupun fotonya di FB yang kulihat tidak senyum. Sama juga di saat itu, Ceri anaknya rame banget. Balik kita ke meja, anak2 udah jahil “Jieeeeehh Dhani, nunggu lama amat baru berani sekarang, udah 17 tahun udah kering nungguin!!! AAAhahahahaa. Cer, lo jawabnya iya mau apa nggak mau?” “Apaan sih tong” aku membela diri “Prikitiiwwwwww” Anak-anak makin gila nyelanya. Sialannya, Ceri malah nimpalin, “Yeeee yang ada gw yang nembak dia barusan, abisnya kelamaan, Dhaninya aja cemen” dilanjutkan dengan tawa meledak dari anak2.

Gak kerasa jam udah nunjukkin jam 11.25. Yang udah pada kawin udah mulai di teror poldanya masing. “Iya bentar lagi, lagi seru nih mah” kira2 begitulah katanya. Digodain sama teman-teman yang cewe bersuara “Buka celananyaaa… buka celananyaaaa…” sengaja biar istri2nya marah. Sejam kemudian akhirnya reuni kecil kami pun berakhir. Aku turun ke B2 ke tempat mobilku terparkir. Saat kukeluar dari gedung parkir, aku lihat Ceri di lobby gedung sedang memainkan HPnya. Aku pikir mungkin dia sedang menunggu dijemput. Kupikir gak ada salahnya ngerjain dia, Aku putar balik dan masuk ke lobby, kupelankan mobilku dan kuarahkan ke depannya “Neng, Taxi neng?” “Hah! Kukira siapa?” “Lagi nunggu dijemput?” “Enggak Dhan, ini nunggu taxi, eeeh yang lewat malah kamu” “Daerah sini emang susah Taxi, kecuali kamu mesen, rumah kamu di mana, udah bareng aja” Entah keberanian darimana aku bisa bilang gitu “Mayan jauh Dhan, aku di apartemen VVV daerah TTT” Lah, itu kan apartemenku “Boong lo, gw tinggal disitu” Ceri terdiam, “Jangan modus deh” “Ya ampun ngapain gw modus udah tua kali, maksudnya kita” “Hahahaha lo tuh tua, muka boros, yaudah aku nebeng deh ya” Ceri pun masuk ke mobil sedan mewah Jepang tahun lamaku ini. Di dalam perjalanan gak kalah serunya sama waktu kumpul tadi, emang sih yang dominasi percakapan masih Ceri, tapi ya baguslah kan jadinya Yin-Yang, dia rame aku seadanya aja balesnya. Waktu mendekati apartemen Ceri bertanya “Dhan, lo mulai kapan tinggal sini? kok gw gak pernah liat lo” “Yakali Cer, Apartemen ada 5 tower, mang isinya gw sama lo doang hahahaa, tapi gw disini sementara aja kok, kalo anak sama bini gw lagi balik…” keceplosan lagi, sumpah deh bukan maksudku ngasi2 kode kalo aku tinggal sendiri. Kali ini mulut punya naluri sendiri. “Maksudnya tinggal sendiri? emang anak bini kamu kemana?” Yaudalah daripada kepalang tanggung aku ceritain aja “Pisah ranjang Cer, nasib” “Oh, sorry, gw gak maksud Dhan.” “Ya gakpapa, apa aku ceritain aja, soalnya gak ada yang tau ini, jadi udah lama beberapa bulan ini kita on off pisah ranjang. Kalo bisa diitung sih udah 6 bulan kali ya, gw cuma balik ke rumah gw kalo anak gw udah mulai nanyain gw, ya gw balik 3 hari. Tapi abis itu gw tinggal di apartmen aja. Lagian kantor balik malem juga jadi cuma buat transit tidur sama mandi.” “oooo gitu, aku prihatin Dhan” “Gakpapa kok Cer, lagian emang istriku sih egois. Dia udah gak mandang aku lagi”

Mobilku sudah kuparkir, tanganku masih di persneling setelah membalikka gigi R ke netral ketika… “Kamu tau gak?” Ceri mengelus dengan telunjuknya ke tangan kiriku yang masih memegangi persneling di posisi netral dan mengurutkannya naik ke lengan, pundak dan ke pipiku. “Istri kamu gak tau dia rugi apa nyuekin kamu”. Kemudian Ceri mengelus pipinya dengan kedua jarinya. Kemudian *CUP* bibirnya mendarat di pipiku. Aku sama sekali tidak berusaha mengelak tapi aku bertanya “Barusan buat apa Cer?” “Buat nghibur hati kamu aja, masa gak boleh?” “Ooooo” suasana jadi canggung gak karuan, or seenggaknya aku dibuat canggung karenanya. Ceri malah sebaliknya dia masih saja tenang dengan senyum manisnya. Kami naik ke lift apartemen, lift tiba, pintu tertutup, masing2 dari kami men-swipe kartu kami ke sensor di apartemen lalu menekan lantai tujuan, aku di lantai 7 dia di lantai 11. Sepanjang lift kami terdiam, menjelang lantai 6 Ceri memeluk tanganku dan berbisik “Temani aku dong malam ini” “Sekarang?” “Iya, aku kesepian” ujar Ceri sambil membenamkan wajahnya dilenganku. Lantai 7 terbuka, aku beranjak, hanya untuk menekan tombol close door lebih cepat. “Makasih Dhan”. Sampai di lantai 11, Ceri yang memeluk tanganku langsung menggandengku menuju kamarnya. Kamar 1107. “Silahkan masuk” Ceri mempersilahkan aku masuk. Aku memperhatikan, Apartemen Ceri rapi sekali, kelewat rapi. Mungkin karena dia workaholic jadinya tidak perlu memberantakkan apartemennya. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang keluarga yang besar dengan home system besar dan TV 54 inch yang terbungkus kain, jendela langit-langit ke lantai plus balkon. Waaaah unit ini pasti mahal sekali. Saat aku memperhatikan sekeliling dan berbalik arah, Ceri sudah di hadapanku dengan jilbab sudah terlepas namun pakaiannya masih sama seperti tadi datang. Dia senyum padaku kemudian Ceri menubrukkan tubuhnya ke tubuhku dan menciumku, melumat bibirku dengan perlahan sekaligus ganas dan romantis (bingung kan ente?). HMMmmmmmhhhmmmmhhh….. desah Ceri. Aku menahan tenaga Ceri dengan melangkah kebelakang namun memeluk Ceri dan mengembalikan ciumannya. Kami bersilat lidah. Wangi nafas Ceri, hmmmm wangi… ya Cherry apaan lagi. Untung abis makan tadi aku udah sikat gigi jadi gak malu2in. Masih dalam posisi berdiri kami saling melumat bibir dan lidah. Ceri kemudian memanjat naik semakin ke atas tubuhku. Aku yang masih gagah, sigap dengan menangkap tubuhnya dan menggendong Ceri. Ceri memeluk kepalaku dan akupun menciumi lehernya yang jenjang. Desahan Ceri semakin menjadi saat ciuman bercampur jilatan ke lehernya semakin ganas. Ceri menjepit erat badanku dengan kakinya. Aku kehilangan keseimbangan, aku mencari tempat untuk mendarat. Aku melihat sofa kulit besar di tengah ruang tunggu dan kujatuhkan badan kami berdua ke sofa dengan posisi aku duduk dan Ceri ada dipangkuanku. Kami kembali berciuman. Ceri mengerang dan menggesek gesekkan selangkangannya di atas celanaku. Celanaku sudah menyembunyikan pentungan hansip size XL. “Ooooowwwwhhhhh…. apa ini..?” sambil masih dalam posisi terduduk berhadapan dipangkuanku, Ceri merogoh selangkangannya dan mulai meremas-remas kontolku, ciumannya tidak dihentikannya. Setelah agak puas meremas kontolku, kembali Ceri menggesek-gesekkan memeknya ke kontolku, kami berdua masih berpakaian lengkap. Ceri menyuruhku untuk bangun. “Berdiri Dhan” Tapi Ceri gak turun. “Masuk situ” Ceri menunjuk master bedroom. Di dalam sudah menanti tempat tidur rapi dengan ukuran 200, matras gulat kami. Aku rebahkan Ceri ke kasur, Ceri mengangkang menyambut pinggangku dan kami lanjutkan petingan kami tadi. Ceri terasa sangat menikmati pergumulan ini, dia bergeliat kesana kemari. Kedua tangannya sesekali mencakar punggungku di balik kemaja yang masih kukenakan dan juga menjambak2 rambatku, aku yang mengkombinasikan cumbuan bibir dengan ciuman leher, kuping dan jilatan ini membuat Ceri semakin blingsatan. Ceri seketika mendorong tubuhku kemudian menunggangiku sambil masih menggoyang-goyangkan pinggulnya, depan belakang depan belakang. dengan menopangkan kedua tangannya di dadaku dia bergerak perlahan-lahan, fokus, kemudian semakin kencang, kencaaang kencaaang “Hyyyyahhhh…. yaaahhh…hhhhhh….ooowwwwhhhh… hyyaaaahhhhh” Aku remas kedua bongakahan dadanya dari luar pakaiannya. “AAAAAAHhhhhh… Dhannnniiii…. Dhaaan… sayaaaanggg” Aku alihkan salah satu tanganku membelai pipinya, sedangkan tanganku yang lain masih berada di dadanya, meremas kedua dadanya yang misterius secara bergantian karena sampai saat ini aku belum melihatnya. Belaian tanganku dipipinya disambut oleh tangan kanannya yang mengarahkan tanganku ke bibirnya, sange maksimal, Ceri mencumbu telapak tanganku, lalu… “AAAAAAaaaakkkkkhhhh……euhhhhhhhh….hhhhmmmm.. .. hhhh…hhhh…” Ceri membuang nafas lega panjang dan menundukkan kepalanya. Setelah itu menepis tanganku dari dadanya dan memelukku mesra dan kembali mencumbuiku.

“Kamu belum Dhan…” aku tidak menjawab. Otakku lagi gak konek kalo lagi beginian. Ceri duduk menunggangiku kemudian membuka bajunya. Satu demi satu kancing baju dibukanya, tak lama kemeja corak bunga yang Ceri kenakan dibukanya. Kesan pertamaku tertuju kepada dua bongkahan daging yang menggantung masih terselubung dibalik bra putih renda ini sangat indah sekali. Besar dan kencang. Mungkin 38B, aku tak peduli, yang penting besar dan kencang. Aku kembali meremas2 saat Ceri sibuk melepaskan kemejanya secara keseluruhan. Ceri kemudian menunduk, sekarang gantian kemejaku yang dilucutinya. Aku yang tidak memakai pakaian dalam memudahkan Ceri untuk menciumi dadaku yang bidang ini sambil membuka kancing bajuku. “Duduk” perintah Ceri, aku pun segera duduk. Ceri kembali menunggangiku sambil membuka kemejaku. Dalam prosesnya melepaskany kemejaku Ceri menciumi sekujur tubuhku, dari dada, pundak, leher, kuping. Setelah terlepas semua, aku lempar kemejaku ke lantai. Ceri menubrukku lagi hingga aku terhempas kembali ke kasur. Ceri masih horny, or horny lagi. Ciuman Ceri melebar dari bibirku, turun ke dadaku. Sambil menciumi dadaku, tangannya yang lihai sudah sibuk membuka sabukku. Kancing celanaku mulai terbuka. Ceri melebarkan celanaku hingga retsletingku otomatis terbuka. Ceri mundur kebelakang, masih rutin menciumi perutku. Kedua tanganku memegangi rambut Ceri. Rambut Ceri hitam legam halus sepundak dan mengikal diujungnya. Kombinasi yang cocok dengan musex Ceri yang seringkali tertutup oleh Rambut Ceri. Ceri menarik celanaku dengan paksaan. Ceri pun turun dari kasur sambil menarik celanaku secara keseluruhan. Setelahnya Ceri menurunkan celana panjang hitam yang sedari tadi belum dilepas. Paha besar kencang dan putih muncul dari balik celana. So sexy, so curvy. Ceri ini nggak kurus. Aku sudah kasi gambaran kalau toketnya mungkin 38B, tapi mungkin beratnya ini 65-68kg. Tapi justru itu yang kusuka, real women have curves. Especially breast, waist and thigh. Bahasa Jawanya: Toket, Bokong sama Paha. Inilah biar berasa “nendang balik” heheheheh…. AKu yang sudah horny segera melepaskan celana dalamku saat tiba-tiba Ceri menyergapku dengan kepalanya diatas celana dalamku. Kedua tanganku di tepis masing2 kesamping untuk dilepaskan dari peganganku ke celana dalamku. Ceri menahan kedua tanganku ke samping sambil menciumi perutku. Aku kegelian dan mengerang nikmat. “Ceeeerr….” “SSsssssssttt….” Ceri berbisik. Ceri menggigit karet kolor celana dalamku dan menariknya hingga muncullah kontolku yang sudah tegang gak karuan. Ceri kemudian mundur sedikit, menduduki tulang kering kedua kakiku dan menarik celana dalamku seluruhnya. Tangannya mengambil kontol. Jika dikira-kira, genggaman Ceri menyisakan space untuk dua tangan lagi menggenggam kontolku. Maksudnya kontolku nih gede gitu hehehe… “Subhanallah, gedenya Dhaaan…” Eeeebusetttt… kenapa bisa keluar panjatan puji pas lagi maksiat gini. “Aku isap Dhan mau?” Aku mengangguk, Ceri kemudian menjilati kontol tegangku dengan telaten, dimulai dari samping kanan ke samping kiri, ujung bawah dari biji naiiiik perlahan dengan lidahnya yang lihai, sampe ke atas ujung palkon, lalu HAP!!! bagai mengemut es lilin, Ceri dengan nikmat menyepong kontolku “Mmmhhhmmmmm…” POP “Mmmmmmmhhhhhhmmmmmmmmmmmm” POP!!! begitulah bunyinya setiap kali Ceri mengulum dan mengeluarkan kontolku. Ceri seakan makin pandai menyepong, naik turun naik turun sedotannya semakin berasa. Aku kembali menjambak rambut Ceri dan menggerakkan kepala Ceri agar lebih dalam dan cepat lagi menyepong kontolku. Ceri gelagepan “hhHMmmmmgggkhkkk….” Ceri menolak dorongan tanganku dan melepaskan sepongannya. “Kegedean Dhan, keselek aku” Aku hanya senyum. Ceri memindahkan tanganku dari kepalanya dan kembali mengulum rudal termasuk dua tangki bensin dibawahnya. Saat RPM sepongan Ceri semakin kencang dan aku merasakan akan keluar… aku menolak Ceri, Ceri protes dengan memaksa untuk kembali memasukkan Kontolku di mulutnya. Aku bangkit dan berlutut sambil mendorong Ceri untuk rebahan doi kasur. Aku tarik celana dalam putihnya kemudian kedua kakinya kurenggangkan ke samping kemudian kujilmek perlahan-lahan. Kaki Ceri secara spontan menjepit kepalaku. Aku salah tingkah, mau tengkurap atau gimana. Ceri yang meremas-remas sendiri toketnya saat aku menjilati vaginanya yang wangi cherry (kenapa ni anak sekujur tubuhnya bau cherry, jangan bilang mobilnya Cherry QQ). Kujilati vaginanya mulai dari samping, mengelilingi vagina, mengelilingi labia majora, desahan Ceri semakin menjadi. Aku sesekali menggigit labia minora dengan bibirku. Ceri semakin menggelinjang “AAAAAAkkkkkkkhhhhh….” Jambakan tangan daan jepitan kakinya semakin menggeliat gak karuan. Lidahku kumainkan di sekitar vaginanya, aku bisa merasakan cairan kewanitaannya sudah keluar untuk menyambut kontol. Masih dalam posisi terkunci, aku membalikkan diri, memaksa Ceri untuk bangun namun kakinya masih melingkar di sekitar kepalaku. Aku membalikkan badan dalam posisi rebahan, Ceri kini dalam posisi menduduki wajahku dengan memeknya masih kujilati. Ceri nampaknya menikmati posisi ini dengan sangat. Terlihat meskipun matanya sudah setengah watt karena keenakan dijilmek, senyumnya muncul. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya.Posisinya seperti ini. Aku rebahan dibawah, Ceri menduduki kepalaku dan memeknya ada di mulutku, Tangan kanannya menopang tubuhnya sedangkan tangan kiri Ceri masih belum melepaskan rambutku untuk dijambaki. Kedua tanganku? Ada di toketnya. Toketnya yang besar masih di tampung oleh BH yang tampaknya kekecilan dan kewalahan menahan beban kedua bongkahan daging. Ceri malah menggenjot vaginanya untuk kujilati “Teruuuuusss…. teruuusss aakakkkkkhhhha aku gak tahan ini….” Ceri yang blingsatan bingung antara menopang tubuhnya agar tak ambruk, terus menjambaki rambutku atau memainkan puting dadanya yang saat ini perannya ada di aku. Karena kasian dengan BHnya aku melepaskan kaitan tali BH di punggung Ceri. TAK!!! BH terbuka, Ceri memundurkan punggungnya, merebut BHnya dan buru2 melepaskan BHnya dan melemparkan ke lantai. Ceri kemudian bangkit dan berdiri menukar posisinya kemudian kembali menduduki wajahku dengan memeknya namun kini posisinya terbalik, Ceri sekarang duduk kearah kontolku. 69! Ceri kembali menggenjot memeknya di mukaku dan aku kembali menjilati memeknya dengan antusias “AAAAahhhkkkkkkaaaaahhhhh….. hhhhh…..” Gak lama kemudian terasa hangat di kontolku saat mulut Ceri kembali menyepongku. Gak lama kemudian jilatanku di memek Ceri merasakan cairan yang lebih banyak keluar dan daging disekitaran memek Ceri berkedut. Pitingan paha Ceri di sekitar kepalaku makin erat saat Ceri orgasme. Aku yang sudah tidak tahan takut crot, menghempaskan Ceri yang masih menikmati orgasmenya dengan meringkuk. Mukanya sudah merah sekali menerima orgasme yang kedua. Saat Ceri sudah kuhempaskan ke samping dan dalam posisi rebahan, aku langsung menindihnya dan menyerangnya dengan ciuman-ciuman ganas. Ceri menyambut dengan segera melingkarkan tangannnya di punggungku. Kaki-kaki kami berdua menyesuaiakn hingga kaki Ceri sudah melingkar dibelakang pantatku. Aku pertama-tama menggesek-gesekkan kontolku ke memek Ceri. Hingga aku putuskan aku tidak tahan untuk mencoblos Ceri “Cer, aku ambil kondom dulu di dompet” “Gak usah gak usah, aku pake spiral” Duh rejeki, bisa crot di dalam. Perlahan aku masukkan otong ke dalam liang surga Ceri, tak disangka memek Ceri masih peret, wajah kagetku ditangkap oleh Ceri “Peret ya say? Enakkan kayak gini nih nih” Ceri kemudian mengempot-empotkan memeknya ke kontolku yang belum 1/4 masuk. Otomatis yang dikedutin adalah palkonku. Aku langsung senyum keenakan. “Kok bisa Cer, anak dua cesar ya” “Iya, demi suami, eeeh suaminya malah gitu” Aku males denger Ceri mulai curhat tentang suami, aku bungkam dengan ciuman kembali. “Hhhhngghhhhh….mmmmmhhhmmmhhh….mmmhhh…” Aku usaha masukkan kembali kontolku ke dalam memek Ceri. masih terlalu sempit, akhirnya aku kasari saja. 1,2,3 SODOK!!!! “AAAAKKKKKKHHHHHHHHHH..!!!” Ceri berteriak saat sodokan pertamaku masuk sambil menjambak rambutku kencang. Maju mundur maju mundur, memek Ceri memang sudah basah sekali, namun entah kenapa kontolku belum bisa masuk, antara memek Ceri yang kekecilan atau kontolku yang kegedean. Atau keduanya. maju mundur maju mundur “hhhh….hhhh….hhhh………………hhh…hh..h …hhh…h” Nafas Ceri gak beraturan saat kuhujamkan 1/3 kontolku untuk mencari jalan masuk. 1,2,3 SODOk!!!!! kulancarkan sodokan keduaku dilanjutkan dengan gerakan memompan maju mundur maju mundur. “KYAAAAAAAAKKKKKK!!!!! aaaahhhh…. ahhhha…. ahhh…ahhh…ahhh…ahhh…” Erangan Ceri seirama dengan sodokan aku yang makin lama sudah menemukan ritmenya, sekarang memek Ceri sudah melonggar dan kontolku sudah bisa dengan leluasa sampai ke ujung goa Ceri. “AAakkkhh… Aku bangkit dan kugulingkan Ceri kesamping namun aku tetap pada posisiku. Kedua kaki kamu saling bersilangan dengan selangkanganku menduduki kaki kiri dia dan kaki kanannya ada di mengangkang heatas bahuku, Jadilah posisi gunting, aku kemudian kembali menyodok2 Ceri dengan giat “ahhh…ahhh…ahhh…ahhh…ahhh…ahhh…ahhh… ahhh…huuuuhhhu….huuuuhhh….huuuhhh….” Ceri mulai menyamakan ritme dengan sodokanku serasa tidak mau kalah. Kedua tanganku kembali meremas2 toketnya, Setelah agak bosan dengan posisi gunting aku kembali gulingkan Ceri kearah lebih dalam dan menarik pinggangnya supaya dalam posis nungging. Semua kulakukan dengan kontolku masih terhujam dan menghujam memek Ceri. ahhh…ahhh…ahhh…ahhh… Ceri semakin bersemangat, karena Ceri sendiri yang memaju mundurkan pantatnya untuk memompa kontolku. Aku memeluk Ceri di perutnya dan menciumi tengkuk dan punggungnya. Hal ini membuat Ceri semakin menjadi untuk menggoyangkan pinggulnya maju mundur maju mundur. Aku kemudian ke posisi tegap, tangan kiriku memegangi toket kirinya dari belakang sedangkan tangan kananku menarik rambutnya, kurang lebih seperti main kuda-kudaan. Tak disangka Ceri berontak. Mungkin dia tidak suka dengan posisi dogy. Ceri maju kedepan hingga kontolku terlepas dari memeknya, kemudian berbalik arah dan menerjangku, pertama dia duduk di perutku. Ambil posisi, menyamakan arah rudal ke memeknya kemudian BLESSSSSSSS….. dimasukkannya kontol besarku ke memeknya. Kali ini tidak sesusah sebelumnya karena memek Ceri sudah basah dan rilex. Ceri mulai menggenjot dengan bergerak maju mundur dalam posisi duduk. ganti-ganti posisi, jongkok, duduk, tengkurap memelukku, ganti duduk lagi sambil maju mundur maju mundur maju mundur maju mundur maju mundur maju mundur makin kencang makin kencaaang “Aaahhh…. ahhhh… ahhhh… ahhhh… ahhhh… ahhhh… ahhhh… ahhhh…” Wajah Ceri yang horny juga membuatku makin nafsu dan kucumbui saja bibirnya yang tipis itu. Saat goyangan Ceri makin dahsyat aku bisa merasakan Ceri sebentar lagi akan orgasme entah yang keberapa kali. AKu banting ke kanan dan hujam sekuat2nya dengan kontolku. Ceri menekan pantatku kuat2 dengan kedua kakinya hingga hujaman kontolku semakin dahsyat dan AAAAAAKkkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhh……

SSSSSSSsssrrrrrrrrrrrrttttttttttttttttttttttt srrrrrrtttttttt srrrrrrtttttt crooooot…… AKu perhatikan Ceri juga sepertinya orgasme setelah membuang nafas lega panjang dan merilekskan tubuhnya dan mengendurkan kunciannya. Aku kemudian berguling ke samping, posisi kami berdua menjadi hadap hadapan. Cairan mani menetes dari ujung kontolku dan lubang memek Ceri. Tapi kita berdua tidak peduli. Aku dan Ceri kemudian sayang-sayangan, saling membelai pipi, dan menciumi bibir kecilnya.

Kenapa? dengan kata tanya yang bodoh aku memecah keheningan. “Aku bosan Dhan, sebenarnya suamiku bukan pergi ke site, tapi dia selingkuh dengan wanita lain.” Ceri cerita dengan nada sedih. baru kali itu aku melihat Ceri sedih. “Maafin aku ya, kamu pasti ngerasa udah dijadikan pelampiasan.” Aku sih gak keberatan, karena seks dengan Ceri ini sudah lama gak kurasakan. Seks dengan istriku sudah hambar sekali, kayak ngentotin sexdoll, yang penting aku keluar, tugas beres. Ngentot sama PSK? mereka fake. Aku gak tau Ceri fake atau nggak tapi ini beda. “Aku gak keberatan Cer, aku bakal disini buat kamu.” Bernasib serupa rupanya menyamakan visi dan misi kita (duh men apa dah) untuk saling melengkapi meskipun bukan dalam ikatan perkawinan. Masing-masing dari kami masih mempertahankan pernikahan dengan alasan buah hati. Namun kami berdua saling memuaskan, saling melayani, bukankah ini yang dicari dalam perkawinan, namun ironisnya ditemukan di dalam diri orang lain. Aku yakin jika aku menikah dengan Ceri, antara aku atau dia yang berubah menjadi siapa yang kita benci saat ini. Setelah ini aku dan Ceri sering bersama-sama. Lingkungan apartemen yang lo lo gue gue mendukung kegiatan kami. Namun tidak jarang pula aku ajak Ceri jalan keluar, sesekali keluar negeri. Istriku tahu dan gak peduli, suami Ceri tau dan gak peduli. Aku akhirnya bahagia dalam arti seks.

cerita dewasa, kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 
 




 
 
BOKEP SMA